//
you're reading...
opini

Peluang dan Tantangan Petani Lokal

Oleh : Andhika Rakhmanda*

Ihwal merajalelanya produk impor holtikultura, terutama buah memang telah lama menjadi sorotan masyarakat. Lihat saja kehadiran jeruk mandarin, apel fuji, pir, lengkeng, juga anggur yang sangat marak mulai di gerai modern, toko buah, hingga kios pinggir jalan. Bahkan jeruk dan lengkeng dijajakan pengasong di terminal dan kereta listrik Jabodetabek. Meski kualitasnya tak selalu bagus, toh masyarakat menyerbunya.

Belum lama ini juga ditemukan buah berformalin dalam jumlah besar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil riset Harian Jogja dan Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Jogja menunjukkan bahwa dari 13 sampel buah yang diambil secara acak dari dua jenis tempat penjualan yakni kios buah pinggir jalan dan supermarket desa hanya satu yang tidak mengandung formalin yakni jeruk ponkam. Sisanya positif mengandung zat yang biasa digunakan untuk pengawet mayat tersebut.

Formalin memang membahayakan kesehatan. Namun bagi sebagian pedagang buah, formalin ternyata tidak sengeri pembatasan impor buah. Menurut mereka dalam Harian Jogja, Selasa (30/4), kebijakan pembatasan impor sangat berdampak pada kelangsungan bisnis pedagang buah. Makin dibatasi, buah semakin langka. Imbasnya, harga mahal, buah sulit dicari dan daya beli masyarakat turun.

Dilihat dari volume, menurut Ahmad Dimyati, peneliti Puslitbang Hortikultura, sebenarnya impor produk holtikulutra masih di bawah 10% dari total produksi nasional. Saat panen raya buah lokal, kehadiran buah impor cenderung menurun tajam. Namun, karena penampilannya menarik dan tingkat keseragaman tinggi, ditunjang penataan yang mencolok, kehadiran produk itu bikin keok beberapa produk domestik. Landasan inilah yang kemudian melahirkan kebijakan pengaturan impor 13 komoditas holtikultura periode Januari-Juni 2013 melalui Peraturan Menteri Pertanian (Perentan) No. 60/2012 tentang rekomendasi produk impor hortikultura (RIPH) dan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 60/2012 tentang ketentuan impor holtikultra (KIPH).

Peluang dan Tantangan

Ketika satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka. Namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka. Adagium itu mungkin sangat cocok bagi kondisi buah Nusantara saat ini. Penutupan keran impor sementara bagi 13 komoditas holtikultura, sekaligus membuka peluang bagi produk holtikultura lokal untuk menunjukkan taringnya di negeri sendiri.

Impor secara tidak langsung dapat menekan penggunaan lahan budidaya, produktivitas, dan minat petani dalam berusaha. Impor juga ditilik memberikan pengaruh negatif terhadap konservasi dan pemanfaatan sumberdaya genetik nasional, serta terhadap kegiatan penelitian dan pengembangan.

Pengendalian impor memang tidak semudah membalikkan telapak tangan karena terkait dengan hubungan banyak negara anggota organisasi perdagangan dunia (WTO) dan upaya memenuhi kebutuhan negeri ini. Namun, yang perlu digarisbawahi, impor seharusnya dilakukan hanya untuk memenuhi permintaan pasar lokal pada waktu yang tepat.

Ada beberapa opsi pengendalian impor yang dapat dilakukan. Pertama dengan menghambat laju impor dengan tarif, administrasi, karantina, dan kuota bulanan atau musiman per jenis komoditas.

Opsi kedua mendongkrak daya saing produk lokal sehingga permintaan akan produk impor akan menurun, diiringi dengan kampanye cinta produk dalam negeri. Ketiga, pengaturan oleh organisasi pelaku usaha melalui standarisasi produk atau kuota pasokan.

Opsi pertama memerlukan dukungan infrastruktur dan menurut penulis ini sangat pas dengan pendekatan jangka pendek. Namun, opsi ini rawan gugatan dan hujatan internasional, serta rawan dengan praktik suap.

Sementara opsi kedua, untuk meningkatkan daya saing produk lokal selain membutuhkan dukungan infrastruktur, juga perlu didukung koordinasi lintas lembaga dan persiapan sumberdaya manusia. Dalam pelaksanaannya, opsi kedua ini membutuhkan waktu yang lama, dukungan politik yang memadai, serta anggaran besar.

Pilihan pengendalian impor ketiga merupakan pilihan yang masih sangat jauh dari kondisi holtikultura nasional saat ini, tetapi akan memberikan dampak jangka panjang. Perlu pembinaan organisasi dan kelembagaan, serta koordinasi antara pedagang dan petani.

Perbaiki Hulu

Pilihan pertama sudah diambil, yaitu pengendalian impor. Diperlukan perbaikan kontinuitas suplai, informasi panen, dan pascapanen untuk memasok permintaan pasar dalam negeri. Pembinaan di tingkat budidaya untuk memenuhi kualitas yang diinginkan konsumen menjadi tugas pemerintah.

Kontinuitas ketersediaan produk lokal saat ini masih menjadi kendala. Pasokan durian lokal contohnya. Walaupun selalu ada sepanjang tahun di pasar ritel, durian lokal cenderung tidak menarik dari segi penampilan. Harus ada rekayasa budidaya yang membuat buah menjadi menarik dan memberikan performa yang baik jika dibandingkan dengan buah impor.

Kita dapat mencontoh sistem kemitraan yang dilakukan Carrefour untuk meningkatkan kualitas dan menjamin pasokan buah lokal. Pihak Carrefour mengontrak satu lahan khusus untuk membudidayakan buah lokal sesuai dengan standar mutu yang diinginkan.

Satu lagi langkah penting yang harus disegerakan untuk menjamin ketersediaan buah lokal yaitu dengan membangun perkebunan buah skala besar. Baru-baru ini Kementrian BUMN mengembangkan tiga jenis buah tropis yaitu manggis, durian dan pisang skala besar berlokasi di lahan PTPN VIII Jawa Barat. Lahan sebesar 300 ha akan dikembangkan untuk masing-masing komoditas. Apakah usaha ini akan mencukupi kebutuhan buah masyarakat pasca pengendalian impor? Segala sesuatunya memang butuh proses. Satu kesempatan sudah terbuka bagi buah nusantara. Alangkah baiknya jika ramai-ramai kita dukung perbaikan holtikultura nusantara, agar menjadi raja di negeri sendiri.

Sumber: Harian Jogja, 14 Mei 2013

_____
*) Ketua Klnik Agromina Bahari 2013

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KAB Archive

KAB Photos

Lebih Banyak Foto

laman facebook resmi KAB

Twitter Terbaru

agri sms

Buku

Buku Klinik Agromina Bahari
%d blogger menyukai ini: