//
you're reading...
opini

Kedaulatan Pangan Landasan Hakiki Kedaulatan Bangsa

Oleh : Dwijono Hadi Darwanto*

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi “hak asasi” setiap rakyat Indonesia. Oleh karena itu, sejak awal kemerdekaan Indonesia, program utama yang dicanangkan pemerintah adalah tercapainya swasembada pangan yaitu kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri. Bahkan, pernyataan Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno, seperti tertera pada prasasti peresmian gedung IPB (27 April 1952), bahwa “pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa; apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka “malapetaka”; oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal dan revolusioner”. Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa persoalan pangan menjadi landasan yang paling mendasar dari kedaulatan suatu bangsa sehingga upaya pemenuhannya diperlukan usaha secara menyeluruh dari segenap komponen dan potensi bangsa.

Swasembada pangan merupakan dasar untuk mencapai kemandirian pangan tanpa tergantung dari negara lain sehingga dapat tercipta kemandirian bangsa. Terciptanya kemandirian bangsa tersebut pada saat itu dikenal dengan Berdiri di atas Kaki Sendiri (Berdikari). Upaya itu tentu saja dijiwai oleh pengertian yang tersurat pada Pembukaan UUD 1945.

Dengan demikian tidak dapat dipungkiri bahwa para pendiri bangsa telah menggariskan agar segenap kekuatan dan potensi bangsa hendaknya dikerahkan untuk mencapai kedaulatan pangan sebagai landasan yang paling asasi untuk tercapainya kedaulatan negara.

Politik Pangan Indonesia

Upaya pencapaian swasembada pangan sejak awal kemerdekaan bangsa dititikberatkan pada beras sebagai bahan pangan utama bangsa Indonesia. Berbagai penguatan kelembagaan, baik di tingkat pusat hingga di tingkat petani, dilakukan dengan dukungan kebijakan dan pembangunan infrastruktur pertanian pangan secara besar-besaran. Namun, tingkat swasembada beras belum bisa dicapai hingga pergantian pemerintahan di akhir tahun 1960-an. Kemudian, pemerintahan baru masih melanjutkan upaya itu yang diawali dengan introduksi varietas padi dari IRRI yaitu IR-5 dan IR-8 tetapi pemerintah memberi nama dengan PB-5 dan PB-8 singkatan dari varietas Peta Baru yang digunakan sebagai indukannya. Kedua varietas padi tersebut ternyata sangat responsif terhadap pupuk kimia yang mengandung N, P, dan K sehingga pemerintah memberikan kredit agar petani mau menggunakan pupuk kimia. Program pengenalan varietas baru dengan serapan pupuk kimia tersebut kemudian dikenal dengan “Green Revolution” dan meluas diterapkan di beberapa negara berkembang di Asia.Perbaikan dan pembangunan jaringan irigasi dilakukan pula agar dapat panen tiga kali dalam setahun untuk irigasi teknis dan dua kali pertahun untuk areal irigasi lainnya.

Selain pemanfaatan areal beririgasi, upaya pemerintah dikembangkan dengan memanfaatkan areal tadah  hujan, rawa/ lebak  dan areal pasang-surut yang terintegrasi dengan program transmigrasi. Varietas unggul lokal yang baru juga diperkenalkan sebagai hasil pemuliaan padi dari berbagai instansi selain Departemen Pertanian, seperti BATAN (Atomita-1 dan Atomita-2); dan UGM (Gama-1 dan Gama-2). Dengan upaya intensif melalui program-program pemerintah tersebut maka pada tahun 1984/85 Indonesia mampu mencapai swasembada  beras, yang ternyata meningkatkan harkat/martabat bangsa di kancah internasional.

Namun demikian, setelah tercapainya tingkat swasembada beras tersebut perhatian pemerintah pada upaya peningkatan produksi pangan termasuk non-beras semakin lemah.

Konsep Kedaulatan Pangan

Sejarah panjang upaya pencapaian swasembada pangan di Indonesia menunjukkan kuatnya keinginan bangsa untuk mencapai kemandirian pangan yaitu kondisi terpenuhinya pangan tanpa adanya ketergantungan dari pihak luar dan mempunyai daya tahan tinggi terhadap perkembangan dan gejolak ekonomi dunia. Namun, pada praktiknya upaya pencapaian kemandirian pangan selama ini dihadapkan pada banyaknya persoalan dan kendala yang kompleks dan menghambat tercapainya ketahanan pangan.

Persoalan yang mendasar adalah ketidakmampuan sistem pemerintahan pusat maupun daerah otonom untuk menjamin terbentuknya sistem pangan yang mandiri dan berdaulat, baik produksi maupun konsumsinya.

Selain itu, pemerintah sangat lemah dalam menghadapi kebijakan negara ekonomi maju yang menggunakan komoditas pangan sebagai alat politik maka sistem kedaulatan pangan sebagai sub-sistem kedaulatan negara Indoneia perlu diperkuat. Dalam hal ini pengertian kedaulatan pangan adalah sistem yang menjamin hak suatu bangsa dalam penentuan kebijakan pangan berbasis kemandirian untuk memenuhi kebutuhan pangan yang diutamakan dari produksi sendiri melalui pengendalian sistem produksi, konsumsi dan distribusi yang berperikeadilan berdasarkan potensi sumber daya, ekologis, sosial, ekonomi dan budaya untuk mencapai sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat.

Dari pengertian tersebut tersirat keinginan agar pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat diutamakan berasal dari produksi sendiri sehingga produsen domestik akan memperoleh manfaat dan bahan pangan dan makanan jadi produksi sendiri mampu menjadi “tuan rumah di negeri sendiri”.

Dengan demikian pemerintah dituntut agar dapat menciptakan sistem pangan yang menguntungkan bagi produsen bahan pangan dan industri pangan yang sekaligus memberi kepuasan maksimal bagi konsumen. Untuk itu diperlukan upaya penguatan kelembagaan pertanian yang integratif dari tingkat pusat dan daerah hingga di tingkat petani serta mengurangi kebijakan yang dis-insentif bagi pertanian pangan dan petani. q – g. (3383-2011).

*) Prof Dr Ir  Dwidjono Hadi Darwanto MS, Guru Besar Ekonomi Pertanian/Agribisnis, Kepala Laboratorium Pengkajian Kebijakan Pangan dan Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KAB Archive

KAB Photos

Lebih Banyak Foto

laman facebook resmi KAB

Twitter Terbaru

agri sms

Buku

Buku Klinik Agromina Bahari
%d blogger menyukai ini: