//
you're reading...
opini

Kelapa Sawit, Dilema “Tambang Emas” Pertanian Indonesia

Oleh : M. Mujadid Faiqon*

Mendengar kata kelapa sawit, akan ada banyak hal yang muncul dalam benak kita. Mungkin minyak nabati, petani plasma, Kalimantan, Sumatera, Mesuji, uang, kekayaan, pembunuhan, pembantaian, atau keadilan. Hal-hal tersebut tentu sudah akrab dengan kelapa sawit.

Di tengah permasalahan kemiskinan dan penganguran di Indonesia, kelapa sawit muncul sebagai salah satu solusi terbaik bagi masalah-masalah tersebut. Hampir setiap bagian dari tanaman kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam kebutuhan, mulai dari pakan ternak hingga pupuk organik, atau bahan makanan seperti mentega, es krim, coklat, bahan aditif, minyak goreng, keperluan kebersihan seperti sabun mandi dan sampo, hingga bahan bakar nabati. Inilah yang menjadi alasan kenapa kelapa sawit begitu dibutuhkan oleh dunia.

Keberadaan perkebunan kelapa sawit dikatakan sebagai penyelamat perekonomian masyarakat sekitarnya. Bersama dengan program PIR, kelapa sawit menjadi pahlawan yang menyejatherakan rakyat, serta memberikan peluang kerja yang menjanjikan bagi para pendatang atau transmigran. Banyak janji ditawarkan kelapa sawit, termasuk kekayaan. Maka wajar ketika banyak orang yang menginvestasikan uangnya untuk perkebunan kelapa sawit.

Namun sayangnya, kebaikan-kebaikan itu justru harus dibayar mahal. Kelapa sawit yang merupakan solusi, harus membawa masalah lain, yang mungkin sama banyak dengan kegunaannya. Rakyat yang katanya disejahterakan, alam, makhluk lain yang tak bersalah, hingga moral manusia justru menjadi korban dari kelapa sawit itu sendiri.

Sejak awal pembangunan, kelapa sawit sudah mulai melahirkan masalah. Pembukaan hutan yang dilakukan besar-besaran tentu berakibat buruk, baik bagi satwa maupun bagi keseimbangan lingkungan. Bagi masyarakat, pembangunan kebun kelapa sawit dapat menyebabkan pergeseran budaya, sebagaimana terjadi pada suku Dayak di Kalimantan, dan masyarakat Pramu Papua. Sebuah pukulan besar tentunya ketika harus menerima kenyataan bahwa telah bertambah satwa yang punah atau kearifan lokal yang menghilang. Lain daripada itu, perusahaan lebih sering mementingkan para transmigran atau pendatang dibandingkan dengan mempekerjakan warga sekitar. Hal ini tentunya akan membawa rasa iri pada putra daerah yang terkesan dianak-tirikan.

Kasus akibat kelapa sawit yang sedang marak akhir-akhir adalah kasus sengketa lahan. Program petani plasma yang dianggap memberikan kesempatan bagi warga, justru menjadi peluang perusahaan untuk melakukan kecurangan. Mencuri tanah, tidak transparan dalam penentuan kualitas tandan buah segar (TBS), ketidakseriusan perusahaan dalam membantu petani plasma, menjadi faktor yang menyebabkan bergairahnya amarah warga untuk memusuhi perusahaan. Keadaan ini semakin diperburuk oleh kekesalan warga yang tidak kebagian kebun plasma meski telah melepaskan tanahnya untuk perusahaan. Maka terjadilah penjarahan, pemagaran tanah, pembakaran lahan, hingga demo besar-besaran menuntut keadilan.

Alangkah lebih baik jika perusahaan mau sedikit saja mendengar ucapan rakyat, dan sebisa mungkin membayar kesalahannya. Namun yang terjadi justru kekerasan menjadi jalan penyelesaian. Pembunuhan satu dibalas pembantaian lain. Ditambah lagi dengan keberpihakan pemerintah serta pihak berwajib kepada perusahaan yang semakin memperunyam masalah. Keadaan ini semakin mempersulit warga yang ingin menuntut keadilan.

Permasalahan ini tentunya menjadi sebuah contoh tragedi besar yang menunjukkan bahwa begitu banyak problematika yang mesti diselesaikan dalam dunia pertanian. Lingkungan hingga moral, kemanusiaan hingga keadilan, bukan hanya soal membasmi hama atau memperoleh uang sebanyak-banyaknya dari lahan seminimal mungkin. Berikan keadilan untuk petani, berikan kearifan untuk budaya, berikan keramahan untuk lingkungan, dan dapatkan kebaikannya.

Ketika keserakahan menguasai pikiran manusia dan menghilangkan sisi kemanusiaan mereka, ketika uang menjadi jalan keluar, maka yang dapat kita lihat hanyalah seleksi alam yang memperdengarkan teriakan kaum yang kalah. Siapa yang benar dan siapa yang salah, hanya Tuhan yang tahu. Tapi kita bisa memilih.

 

*) Mahasiswa Jurusan Budidaya Pertanian 2011, Staff Dept. Media Klinik Agromina Bahari


Diskusi

3 thoughts on “Kelapa Sawit, Dilema “Tambang Emas” Pertanian Indonesia

  1. kira-kira sampai kapan kearifan lokal bisa dipertahankan ya?

    Posted by putri | April 14, 2012, 5:43 pm
  2. terlalu komplek masalah atau kurang jelinya suatu kebijakan dterapkan yah bos! Padahal disini negara kepulauan, satwa atau semua hewan yang dilindungi harusnya bisa menempati satu pulau ofservasi khusus! Cara Cepat
    Memotong Kaca

    Posted by sanAgus | Juni 17, 2013, 3:31 pm
  3. tq. 🙂

    Posted by ct ch .s. | November 16, 2013, 12:47 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KAB Archive

KAB Photos

Lebih Banyak Foto

laman facebook resmi KAB

Twitter Terbaru

agri sms

Buku

Buku Klinik Agromina Bahari
%d blogger menyukai ini: