//
you're reading...
opini

Ketika Langit Bergemuruh dan Tanah Mulai Bergetar

Tak satupun orang di dunia ini yang meragukan keindahan gugusan pulau di khatulistiwa, beraneka ragam flora dan fauna  menghiasi setiap jengkal tanahnya bak untaian ribuan permata. Deru ombak dan kicau burung di tepi pantai mengalun syahdu menentramkan jiwa setiap insan, sejauh mata memandang terlihat keindahan dan keanggunan mahakarya sang Pencipta

Namun kini semua mulai berganti, alam nan indah kini muram dan bersedih. Betapa mereka kesakitan akibat perlakuan para khalifah bumi ini. Keserakahan dan ketamakan telah mengakar dan meracuni pikiran mereka. Segala macam cara dan langkah mereka tempuh hanya demi memuaskan hasrat duniawi. Kini ketika bumi murka dan mengguncangkan setiap jengkal tanah yang kita huni barulah rasa sesal itu muncul, tapi pantaskan kita marah? Setelah apa yang kita lakukan terhadap bumi ini. Pantaskan kita menuntut sedangkan kita bahkan tak mampu memenuhi kewajiban kita. Berapa ribu lagi yang harus tumbang agar kita mulai menyadari kesalahan kita.

Selama ini kita hanya menganggap alam sebagai alat. Alat pemuas segala nafsu dunia , namun kita tak pernah tahu bahwa alam juga mendengar. Dia juga merasakan apa yang selayaknya kita rasakan, senang, bahagia , sedih bahkan murka. Bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini hanyalah sedikit contoh betapa kita harus mulai ‘Sadar’ dari segala ‘kemewahan’ yang kita rasakan.

Seperti layaknya pepatah “Tidak ada kata terlambat, selama kita masih mau berusaha”. Demikian halnya dengan kita. Bencana yang datang silih berganti jangan sampai “membunuh” semangat kita untuk berubah. Marilah kita tata kembali kehidupan kita dengan nyaman dan berdampingan dengan alam. Sistem pembangunan yang selama ini kita anut kurang memperhatikan faktor alam yang ada, sudah saatnya sistem kuno ini kita rubah dengan sistem baru yang lebih berbasis lingkungan. Para arsitek dan insinyur bangunan haruslah memperhatikan dampak pembangunan sebuah gedung terhadap lingkungan di sekitarnya. Tak hanya cantik dilihat dan kokoh namun bangunan tersebut haruslah bersinergi dengan alam. Perundang – undangan yang selama ini mengatur tentang tata laksana konstruksi sebuah bangunan juga harus dirubah. Harus ada aturan yang tegas untuk melarang didirikannya bangunan di lahan lahan daerah resapan air, lereng – lereng gunung serta bukit. Selain itu Ketegasan pemerintah dalam menghukum para pelaku pembalakan liar harus digalakkan karena fungsi hutan sangatlah kompleks untuk menjaga keseimbangan alam kita.

Terlepas dari segala macam aturan dan regulasi yang ada, hal yang terpenting adalah niat yang ada dalam setiap individu. Mulailah dari diri kita sendiri, mari kita berubah demi kehidupan manuasia yang lebih nyaman dan sejahtera. Sudah saatnya kita memperhatikan dan menjaga alam ini sebagaimana tugas kita sebagai khalifah di bumi ini. Belum ada kata terlambat selama kita masih mau berusaha dan berkomitmen untuk PERUBAHAN. Kenyataannya ALLAH masih memberi kita kesempatan, hal ini tercermin dari bencana yang terjadi. Jika ALLAH memang telah murka dengan kita tentu saat ini umat manusia sudah musnah atau dengan kata lain kiamat telah tiba. ALLAH hanya memperingatkan kita dan sudah seharusnya kita menindak lanjuti peringatan ALLAH tersebut dengan melakukan perubahan yang lebih baik.

Disinilah peran kita sebagai mahkluk sosial benar – benar diuji kebenarannya, akankah kita saling bahu membahu menata kembali kehidupan kita ataukah hanya diam dan menyaksikan saudara kita menderita. Disini saya akan menyoroti peranan mahasiswa sebagai generasi cendikia dalam mengahadapi permasalahan ini. Mahasiswa sebagai garda terdepan dalam perubahan harus teguh dalam memegang prinsip “Reformasi”. Reformasi yang akan saya bahas bukanlah reformasi politik yang selama ini justru semakin membuat kita hilang arah, tapi reformasi yang saya maksud adalah rasa kepedulian kita terhadap sesama dan solusi yang kita lakukan untuk memecahkan masalah ini. Hal ini tercermin dari sikap para mahasiswa yang segera tanpa “dikomando” melakukan aksi penggalangan dana bagi merapi dan ikut menjadi relawan untuk membantu para pengungsi. Beberapa teman saya telah melakukan hal ini. Satu hal yang saya pelajari dari mereka adalah rasa ikhlas dan semangat mereka untuk membantu sesama. Seperti perkataan seorang relawan yang diwawancarai di salah satu TV swasta, beliau mengatakan bahwa “Kepuasan batin untuk membantu sesama itu tidak dapat di ukur dengan limpahan harta dan materi tetapi ini adalah sebuah panggilan dari jiwa!” . Dan memang benar adanya perkataan beliau, para relawan yang selama ini membantu para pengungsi mulai dari evakuasi, menyiapkan barak pengungsian, mendirikan barak pengungsian dan posko kesehatan rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan nyawa demi melihat saudara – saudara kita selamat. Layaknya sebuah pepatah kuno yang berbunyi “Dharma eva hato hanti” yang berarti bahwa bersatu karena kita kuat, dan kita kuat karena bersatu. Biarpun langit bergemuruh dan tanah berguncang selama kita masih memiliki rasa simpati dan persatuan yang kokoh , kita akan mampu melewatinya bersama – sama dan menuju ke kehidupan yang baru.

posted by : M. Agnisaha (HPT 10)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KAB Archive

KAB Photos

Lebih Banyak Foto

laman facebook resmi KAB

Twitter Terbaru

agri sms

Buku

Buku Klinik Agromina Bahari
%d blogger menyukai ini: